Catatan kecilku...
Rabu, 29 Februari 2012
Tangisku ...
Selasa, 28 Februari 2012
Terima kasih Cinta
Beberapa waktu yang lalu aku membaca sebuah tulisan dari seorang penulis buku best seller. Tulisan itu membahas tentang cinta yang meluaskan, cinta yang bukan itu-itu saja, cinta yang luar biasa. Tulisan yang disampaikan dengan gaya monolog ini bener-bener pas kena dihati (kek lagu bahasanya), tapi beneran, dari tulisan ini banyak banget yang bisa aku pelajari. Bahwa pada saat aku mencintai, aku tidak boleh hanya melulu berharap aku akan bahagia, senang dan selalu tersenyum saat sedang bersama dengan pasanganku. Tapi aku juga harus lebih siap untuk aku bisa merasakan berbagai macam rasa dan sensasi mencintai.
Pada saat aku memutuskan untuk mencintai seseorang, pada saat yang sama aku

juga harus siap untuk belajar menerima berbagai macam rasa yang timbul karena rasa itu. Rasa kecewa dan rasa marah, bahkan kadang kala sekilas terbersit rasa benci. Tapi karena cinta itu pula rasa itu juga seakan pergi begitu saja seiring berhembusnya angin dan pada akhirnya yang aku rasakan adalah aku semakin mencintai pasanganku dengan keseluruhan adanya dia, dengan semua hal yang menurutku itu menjadi kekurangannya.
Kekecewaan yang aku rasakan membuat aku belajar untuk lebih mawas diri dan belajar untuk mengendalikan diri mengenai sesuatu. Agar aku tidak terlalu tinggi berharap, tapi aku juga harus lebih mengerti kondisi pasanganku. Bahwa kami ternyata mempunyai kesibukan kami sendiri yang memang harus lebih diprioritaskan. Keluarga, pekerjaan dan bahkan sahabat. Kadang aku dan pasanganku tidak bisa mengesampingkan itu. Kadang kala mereka lebih membutuhkan kami. Dan pada saat hal ini terjadi, aku pribadi harus belajar menerima dan mengerti apa yang menjadi prioritas pasanganku.
Kemarahan yang aku rasakan dan bahkan aku tahan karena apa yang aku lakukan sering kali salah dimata pasanganku, yang sering kali membuat dadaku terasa begitu sesak, sehingga sulit sekali untuk bernafas. Pada saat itu aku belajar untuk mengerti cara pandang pasanganku dan belajar untuk lebih bersabar sehingga tidak perlu ada keributan diantara kami. Satu lagi, disini aku belajar untuk tidak malu meminta maaf jika memang apa yang aku lakukan membuat pasanganku terganggu. Menyakitkan memang ketika aku harus menerima pesan singkat yang muncul dari ponselku yang berisi pernyataan complain dan tidak suka dari pasanganku, bahkan ada perasaan tidak terima dengan segala macam complain yang muncul dari pikirannya, namun mau tidak mau, suka tidak suka aku harus tetap menerima hal itu karena pada saat itu aku tidak lagi diriku sendiri, aku adalah bagian dari pasanganku dan saat itu aku tidak bisa lagi hanya berfikir mengenai aku, tapi aku harus mau dan mampu untuk berfikir mengenai kami, aku dan pasanganku.
Bohong kalau aku bilang aku tidak pernah menangis dengan kondisi seperti ini. Aku sering kali meneteskan air mata dengan kondisi yang seperti ini, karena memang cuma itu yang bisa aku lakukan untuk membangkitkan kembali kekuatanku. Air mataku adalah energy yang mahadasyat untuk mengembalikan semua kekuatanku. Ketika air mataku perlahan-lahan mulai berhenti menetes, saat itu juga perasaanku terasa lega. Semua marah dan kecewa mengalir keluar bersamaan dengan menetesnya air mataku. Kadang aku berfikir aku membencinya, tapi ternyata saat perasaanku sudah terasa lega, aku begitu merindukan dia, dia yang membuat air mataku menetes, dan ternyata aku tidak bisa membencinya.
Terima kasih Sayank, karena engkau telah memberikan aku cinta yang luar biasa ini. Cinta yang mendewasakan aku dan meluaskan aku, cinta yang membuatku selalu belajar dan belajar sehingga aku bisa mencintaimu dengan apa adanya dirimu. Tetaplah menjadi guruku dan menjadi mata pelajaran yang harus aku pelajari.
Rabu, 19 Oktober 2011
Coba syukuri deh...
Sifat manusia salah satunya adalah tidak akan pernah merasa puas. Gw pernah ditanya sama bos, apakah gw puas dengan kenaikan gaji yang gw terima? Gw jawab, puas sih engga pak tapi saya mensyukuri apa yang saya dapat. Siapa sih yang ga pengen punya banyak uang? Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya perlu uang. Iya
Kadang gw mikir nasib gw kok begini amet yak. Punya bos galak, tekanan pekerjaan yang ngga ada abisnya, gaji ga gede-gede amet, pulang malem mulu, dan sebagainya. Tapi begitu gw inget dulu waktu gw masih nganggur, maka rasa syukur itu dateng lagi. Ya..harusnya gw lebih bersyukur udah dapet pekerjaan. Masalah enak ga enak, masih enakan kerja daripada nganggur. Gaji besar atau kecil, itu jadi lebih berarti kalau kita mensyukurinya.

Lu akan lebih mensyukuri apa yang lu punya, saat lu melihat orang lain berpeluh keringat di jalanan dengan memegang amplop coklat yang mungkin berisi lamaran. Lu harusnya bersyukur dengan gaji yang lu terima setiap bulan, saat lu mendengar saudara lu sendiri ternyata harus banting tulang untuk mendapatkan gaji yang lebih kecil dari gaji lu demi menghidupi anak dan istrinya dan dia tetap semangat. Lu harusnya bersyukur saat lu melihat orang disekitar lu belum seberuntung eln tidak memiliki apa yang lu punya. Lu harusnya bersyukur lu udah punya pekerjaan, saat lu. Dan lu jangan lupakan mereka, tanpa orang-orang yang belum beruntung itu, lu ngga akan disebut beruntung. Seperti menang dan kalah, lu ngga akan disebut pemenang kalau ngga ada yang kalah. Maka dari itu bersyukurlah atas hidup yang telah Tuhan berikan. Kesempatan pasti selalu ada, tergantung cara kita untuk meraihnya.
Jangan selalu melihat ke atas, karena lu bisa kesandung sama yang ada di bawah lu. Tapi juga jangan selalu melihat ke bawah, karena lu ngga akan pernah tau apa yang ada diatas lu. Sadarlah bahwa kita manusia butuh orang lain untuk bertahan hidup. Jadi lihatlah sekeliling lu dengan adil saat lu berjalan, agar perjalanan lu penuh dengan makna dan rasa syukur semoga jauh dari hambatan.